Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

catatan si nando


Setahun lamanya aku menginjak bumi ganesha ini, langkah demi langkah jalan hidup yang kutepak, terlalu banyak yang kusaksikan, terlalu sering yang kuabaikan, terlalu banyak yang kupikirkan. Seuntai rasa kagum yang tak ada habisnya pun masih tersemat didalam hati. Tempat ini terlalu indah, tempat ini terlalu sejuk, tempat ini terlalu menghanyutkanku ‘tuk berbangga, hidup dalam kemewahan.
Sering ibuku mengingatkan, nak jangan kau turuti rasa banggamu, jangan kau biarkan semua yang kau punya membawamu dan terlena. Hidupmu bukan hari ini, hari esoklah yang selalu menghantui. Ingat siapa dirimu, ingat dari mana asalmu, ingat dengan apa kau bisa tersenyum disana, ingat untuk apa kau jauh, ingat bagaimana caranya agar kau bisa seperti mereka. Terlalu banyak wejangan yang kuterima. Tapi sering kali kuberpikir, itu semua adalah hanyalah kekhawatiran seorang ibu pada anaknya. Sungguh, aku berbangga.
sempat aku berjalan sendirian, pulang ‘tuk beristirahat. Bermaksud untuk merebahkan badan di pembaringan hangat dengan bantal dan selimut yang bergemul. Baru saja sedikit mengeluarkan beberapa rupiah dari sakuku, membeli buah dan  sebungkus makanan. Berniat akan menyantapnya sebelum tidur nanti.
 Perjalananku hingga rumah masih tinggal ratusan kaki lagi. Di tepi jalan kulihat sebuah gerobak yang didorong oleh seorang lelaki paruh-baya, puluhan bulatan putih terbuat dari kanji dan 3 botol berwarna ada diatas gerobak itu. Seiring langkahku menelusuri jalan setapak yang gelap. Terlintas di benakku, berapa penghasilan bapak itu seharinya, takkah bapak itu akan membawakan makanan untuk keluarga dan mungkin tiga orang anaknya. Takkah anak-anaknya yang merengek meminta dibelikan kue sepulang jualan. padahal jualannya hanyalah bola-bola kanji yang dibumbui yang pastinya pembelinya hanya anak kecil dengan uang lima ratusan. Lima ratus itu terlalu murah untuk rasa lapar dan dahaga yang ia kuras untuk berjalan dan mendorong gerobak itu hingga sejauh kiloan jalan raya. Tapi rasa lelah yang dibayar dengan recehan itu tak mengurangi sedikitpun keramahan dan senyum tulus dibibirnya. Kapankah ia akan pulang hingga terkumpul uang untuk bisa membeli sebungkus kue untuk anaknya. Hidupnya terlalu sederhana.
Kurang kebih limapuluh kaki dari sana. Hatiku dikejutkan oleh seorang lelaki tua yang tertidur dengan anak perempuan kecil dipangkuannya yang juga sudah terlelap. Didepan nya tergeletak sebuah wadah kumal kecil yang kosong, berharap ada orang-orang berpunya yang lalu lalang di tengah kota besar ini yang merasa uang seribuan atau recehan tak berharga lagi membuang lembaran dan koin tersebut kedalam penampung kehidupan itu. Takkah angin malam dan gerimis ini membuatnya dingin, takkah kotoran kuda ditepi sana itu membuat hidungnya merasa tidak nyaman, lelapkah tidur mereka yang hanya bergeletakan diatas trotoar yang keras ini, bukankah dia juga manusia sepertiku, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan retoris yang terlintas dibenakku.
Dikejauhan sana kusaksikan dua orang anak kecil duduk dilesehan angkot hijau menabuh botol dan gitar kecil layaknya seorang artis yang tampil dipanggung dan diperhatikan ribuan orang. Mereka baru lima tahun, mungkin belum,belum tahu untuk apa sebenarnya mereka dilahirkan, tidakkah mereka kenal dengan kata bermain, tidakkah mereka kenal dengan kata robot-robotan, boneka, atau mobil-mobilan. Mereka baru lima tahun, sudahkah seharusnya mereka seperti ini, tidakkah mereka tahu betapa berbahayanya kehidupan di sekitar lalu lintas dan kendaraan.  Haruskah mereka kehilangan masa kanak-kanaknya demi recehan uang untuk beli sebungkus nasi sayur, haruskah mereka hampa akan pendidikan dan sekolah karena keadaan dan ketiadaan biaya atau mungkin orangtua.
Akhh, hidup ini terlalu manis bagiku tapi ironis bagi mereka. Baju kaos itu kotor bagiku tapi bersih bagi mereka. Bungkusan itu sampah bagiku tapi makanan bagi mereka. Untukku nasi kotak untuk mereka kotak nasi. Untukku minuman berkaleng tapi untuk mereka kaleng minuman. Tempat pembuangan itu bau busuk bagiku tapi itulah aroma mereka. Bukankah mereka juga sepertiku, tercipta dengan penginderaan yang sama, terlahir sebagai seorang manusia dengan kodrat yang sama.
Pantaskah aku katakan kalau sungguh hidup ini memang tidak adil sementara aku hidup daIam segala bentuk kesempatan dan kebanggaan yang kututupi dengan sejuta penyesalan karena kehilangan satu gelak-tawa saja  dan mereka bergelimangan dengan kesedihan yang mereka terima dengan senyum dan keikhlasan. Sungguh Allah itu maha adil. Tiada yang tahu rencana Allah sebelum semuanya terjadi. Atau mungkinkah inilah satu bentuk keadilan Allah, yang akan dibuktikan diakhirat kelak. Wallahuallam...
Sungguh inilah cerminan hidupku. Seperti sabda nabiku, seseorang adalah cermin bagi yang lainnya. Bagaimana mungkin aku tertawa sementara banyak orang menangis diatas kebahagiaanku, bagaimana mungkin aku menangis sementara banyak orang tersenyum dengan kesedihannya,  sungguh kekufuranku menjadi-jadi, menguasai hingga ke lubuk hatiku. Merasa kekurangan diatas kemewahan. Merasa kehausan setelah meneguk ribuan susu. Merasa kelaparan seusai menyantap potongan daging bakar dengan sambel. Yaa Rabb, bangunkanlah hamba dari fatamorgana kehidupan ini, sentuhlah hati ini dengan iman hingga rasa rindu akan persaudaraan ini semakin menyala, siramkanlah jiwa ini dengan air telaga kautsarMu hingga hilang rasa dahaga kekufuran hidup ini, tetesilah raga ini dengan karuniaMu hingga kesucian itu menyertai setiap perbuatanku.
 Amiin Yaa Kariim... Walaa hajatan hiya laka ridhan illa qadai taha yaa arhamarahimiin.

 

Sabtu, 12 Januari 2013

Ashabu Rayati Sud

Ashabu Rayati Sud (Pasukan Panji Hitam)...
“Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatupun bisa menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis).” (HR.Tirmidzi)
http://www.youtube.com/watch?v=zWN61EFn28Q

Rabu, 23 November 2011

Aku ingin menjadi...


Aku ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain, bisa memberikan sesuatu yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, membuat perubahan kearah yang lebih baik. Setiap perjalanan hidup yang kutempuh akan selalu kupetik sebuah pelajaran yang akan membawaku pada kearifan dalam memaknai hidup, belajar tentang hidup dan kehidupan. Belajar tentang arti dari rasa syukur yang kupersembahkan kehadirat Nya. Merasakan halusnya sentuh tangan Illahi Rabbi yang sama sekali tiada bandingnya.
Aku ingin menjadi seorang manusia yang diharapkan kehadirannya dalam setiap momen karena kewibawaan dan kebijaksanaanku dalam memandang setiap problema yang mereka hadapi. Dengan integritas yang aku miliki, aku tidak hanya berbicara tentang sebuah kebajikan, tetapi juga akan lebih banyak bertindak dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan keridhoanNya.
Aku ingin menjadi orang yang bisa memandang materi bukan sebagai sebuah orientasi akhir dari begitu banyak perbuatan dan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi materi hanyalah salah satu cara dan sarana untuk bisa mempertahankan hidup, bukan membahagiakan hidup. Oleh karena itu, kuingin dalam hidup ini, aku bisa memberi sebanyak-banyaknya, bukan sebagai sebuah kewajiban tapi sebuah kebutuhan yang membawaku kepada kebahagiaan yang hakiki.
Dan di bangku kuliah inilah kumulai belajar tentang makna hidup yang sebenarnya. Tentang perjuangan, belajar, bermasyarakat, berorganisasi dan berprestasi. Itu semua bukanlah sesuatu yang bisa dilewati begitu saja, karena itu semua adalah tujuanku ada disini jauh dari kampung halaman. Dengan landasan keikhlasan dan karena Allah swt.
Kuinginkan selama empat tahun kuliah ini, aku menjadi seorang mahasiswa teladan yang berprestasi, yang berintegritas tinggi. Selama setahun kedepan aku akan berusaha untuk bisa lulus dari TPB dengan IP besar atau sama dengan 3,5. Dengan nilai maksimal hanya ada dua mata kuliah dengan indeks B dan masuk Mikrobiologi.
Selama tahun kedua dan ketiga dibangku kuliah, aku akan mempertahankan IP ku, dan bahkan meningkatnya. Aku akan aktif dalam olimpiade dan lomba-lomba ilmiah lainnya yang sesuai dengan jurusanku. Karena sejak SMA aku selalu termotivasi dengan nama olimpiade. Aku pun akan bergerak aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebagai wujud seorang mahasiswa yang tak hanya bisa bergerak secara individual, tapi juga akan lebih kuat jika bertindak bersama. Disini aku akan bergerak dibidang jurnalistik, yang akan meliput seputar masalah bangsa yang terkait dengan kehidupan mahasiswa dan masyarakat. Selain itu, aku akan menjadi seorang asisten dosen dan tenaga pengajar di lembaga pendidikan di Bandung mata pelajaran Biologi. Hal ini adalah salah satu rencana hidupku, langkah ini kuambil karena hal ini akan melatihku bagaimana menjadi seorang dosen dan motivator yang baik.
Dosen adalah pilihanku, karena kuingin ilmu yang kumiliki mengalir dan bermanfaat bagi generasi selanjutnya dan mudah-mudahan dengan ilmu yang ku bagi, bisa menghasilkan sesuau yang bisa memberikan semangat bagi orang banyak, terutama bangsa Indonesia. Dengan prestasi yang kuperoleh selama tahun kedua dan ketiga, ku ingin menjadi mahasiswa utusan ke luar negeri untuk melakukan sejumlah riset dan penelitian. Dan pada tahun keempat, aku akan menulis sebuah skripsi yang bertemakan lingkungan. Dengan di wisuda 4 tahun pas, mudah-mudahan aku lulus dengan predikat cum laudedan mendapat beasiswa S2 ke luar negeri (spt : Jepang, Prancis, Jerman).